Gelut, dan gelut. Bakar dan membakar, demi bola ?
19/02/2020

Ijo vs Biru, bukan bola tapi gengsi

By admin
loading...

Blitar – Yahya Ali Rahmawan

Ijo itu Persebaya dan Biru itu Arema. Mungkin itu mitos sebagian orang di Jawa Timur, tetapi bila kita berdiri lebih tinggi Ijo bisa berarti Tim Nas PSSI saat laga tandang dan biru bisa sebagai Persib dan klub lain di negeri ini.

Lebih tinggi lagi, Ijo bisa berarti Australia dan Biru bisa berarti Chelsea. Tetapi kenapa ketika Ijo dan Biru ini bertemu, pendukungnya gelut, baku hantam, bakar-bakaran, bahkan bunuh-bunuhan. Tapi itu di Jawa Timur lho…

Kota Surabaya dan Kota Malang, dua kota besar yang punya Persebaya dan Arema. Klub Sepak Bola yang terkenal di jamannya, saat ini juga terkenal. Tetapi terkenal bila mereka bertemu, pertandingannya seru, sudden death, hidup mati, bagaikan final. Pun dengan pendukungnya, tetap Gelut. Katanya membela harga diri, membela daerah. Maka lagu-lagunya pun didesain saling mengolok, menjatuhkan dan memisuhkan diri.

Buka bola, tetapi gengsi. Gengsi dan bukan Bola !, jika itu tentang bola maka persaingan untuk menjadi jawara harus fair play, bukan segala cara, karena bola bukan politik tetapi olah raga, olah raga itu biar sehat, dan olah raga itu menyehatkan termasuk persaingannya, persaingan sehat.

Ijo vs Biru, terus akan begitu, jika semangat kedaerahan tetap menonjol didada, baik dadanya pemain maupun pendukung atau inggrisnya SUppORter. Jika Surabaya atau Kera Ngalamnya yang dominan. Bukan Indonesianya dan bukan Sepak Bolanya.

So, Sepak Bola Indonesia juga akan tetap begini jika bukan semangat SEHAT yang dominan, tetapi politik yang menguasai. Politik sesaat, politik anggaran dan politik pencitraan.

Ijo dan Biru tidak akan menjadi Merah dan Putih, selama politik menguasai kepala dan dada manusia, politik yang praktis dan politik yang sesaat, demi perut, perut dan feses.

Indonesia, Rabu pagi (19/02/2020)

Share and Enjoy !

0Shares
0 0 0